Kau mampu membuatku terlupa akan nyerinya luka cinta. Bahkan, kau juga bisa meluruhkan airmataku saat kauberkata; kata kita bukan lagi cinta.
Ketika ingatan menggugah kenangan.
Hati-hati dengan kata-kata, sebab kata-kata bisa membuat bahagia dan merana, kata-kata bisa membuat kita jatuh cinta dan nelangsa. Bahkan kata-kata bisa membuat orang pindah agama!
Cinta itu selalu memabukan seperti arak, meskipun ia jauh terbentang jarak.
Kau tak bisa memungkiri, bahwa masalalumu adalah aku, dan aku pun tak bisa memungkiri, bahwa yang masih kurindukan saat ini adalah dirimu.
Cinta ini masih bernyawa

Cinta ini masih bernyawa

Apakah kau tak mendengar detak jantungnya?

Genggamlah lengannya, nadinya masih berdenyut!


Lekas! kabarkan kepada hatimu, bahwa cinta ini memang masih bernyawa

Meski rapuh karena beban rindu, kalbunya masih saja menyebut namamu


Lekas! kabarkan kepada ingatanmu, bahwa cinta ini belum mati

Jangan sampai hati dan ingatanmu tak mendengar kabar ini

Sebab, sudah terlalu lama cintanya menahan nyeri


Kau tahu, mengapa cinta ini masih bernyawa?

Karena cinta ini melebihi usia nyawanya sendiri

Walau raganya telah tiada, namun cinta ini masih bernyawa.


- Jakarta, 29 Juli 2014 / 11:38

Tak selamanya takdir itu bernyawa

Ketika rindu berkata di antara barisan hampa, ia hanya menuntut jumpa, tiada pernah meminta lainnya.

tyasrambu:

اللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمدْ
Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H.
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَامَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Sama-sama, maaf lahir batin, semoga kita semua dilimpahkan cinta dan kebahagiaan.

Masing-masing dari kita tak harus jadi badut pesta untuk terlihat lucu sekaligus konyol; coba berkacalah ketika kau jatuh cinta!

(via kotak-nasi)

Aku pernah melakukannya, tebahak-bahak aku di depan kaca, dan kepedihan cintaku juga ikut tertawa.

Bacaan malam ini.

Bacaan malam ini.

Berjalan Sendiri

Kekasih, apakah kau tak mendengar ratap kesunyianku?
Rinduku rebah di atas tumpukan airmata

Aku serupa orang yang tak pernah ada, berjalan sendiri, terkadang cintaku disengat terik rindumu, disiram hujan sepi tanpamu

Hening ini seperti berjalan sendiri, menyusuri kehadiranmu yang tiada pasti

kerap aku merintih, sebab kesendirian ini bertambah nyeri, bertambah perih.