"Ketika Senja Sedang Terluka"

Kau selalu bercerita;
tentang senja dan segala keremangannya,
tentang bahagia dan duka;
tentang suatu yang dinamakan cinta.
****
…sedang dirimu serupa sumbu,
detik demi detik lesap terbakar waktu,
meski telah beribu kali kautebas sepi,
namun takpernah mati,
****
diam-diam kulayangkan doa;
untukmu, tentang hujan yang tak reda di mata,
tentang kesunyianmu yang kian menua dan renta,
hingga tawa dan luka tiada beda.
****
Untukmu; merebahlah pada dadaku yang debar,
pada nadiku yang getar,
biarkan senja tetap merona bersama kepak camar,
hingga empas dukamu yang memar.

"Ketika Senja Sedang Terluka"

Kau selalu bercerita;

tentang senja dan segala keremangannya,

tentang bahagia dan duka;

tentang suatu yang dinamakan cinta.

****

…sedang dirimu serupa sumbu,

detik demi detik lesap terbakar waktu,

meski telah beribu kali kautebas sepi,

namun takpernah mati,

****

diam-diam kulayangkan doa;

untukmu, tentang hujan yang tak reda di mata,

tentang kesunyianmu yang kian menua dan renta,

hingga tawa dan luka tiada beda.

****

Untukmu; merebahlah pada dadaku yang debar,

pada nadiku yang getar,

biarkan senja tetap merona bersama kepak camar,

hingga empas dukamu yang memar.

Adalah harapan; tempat segala kekecewaan dikandung.
Ketika keinginan tidak sesuai dengan harapan… :)
Dekatkanlah saja hati kami atas restuMu, dari awal kami telah menyadari perihal jarak yang membentang. Namun, kami telah begitu mempercayai diri padaMu, maka kali ini jika Engkau berkenan, ijinkanlah kami untuk beribadah kepadaMu bersama-sama.
(via satunovemberr)

Doa yang manis :)

Aminnya? ;)

Amiiinn…Allahumma Amiiinn… :)

Dekatkanlah saja hati kami atas restuMu, dari awal kami telah menyadari perihal jarak yang membentang. Namun, kami telah begitu mempercayai diri padaMu, maka kali ini jika Engkau berkenan, ijinkanlah kami untuk beribadah kepadaMu bersama-sama.
(via satunovemberr)

Doa yang manis :)

Kepada lampu-lampu yang telah padam, biarkan aku menyelesaikan malam dengan menuliskan selarik puisi pada punggung sunyi, hingga detak jam dinding membawa bayangmu ke dalam mimpi.
Sunyi tak sederhana yang kita kira.
Di hari pertemuan kami yang senja,
aku menyimpan sisa jumpa, kelak kutuai ketika musim rindu tiba,
sebab, kata penyair di sana; rindu itu berteman baik dengan heningnya rasa,
jika malam tiba, cukup suguhi keduanya dengan kata-kata,
sampai mereka pergi, namun abadi dalam puisi.

Di hari pertemuan kami yang senja,

aku menyimpan sisa jumpa, kelak kutuai ketika musim rindu tiba,

sebab, kata penyair di sana; rindu itu berteman baik dengan heningnya rasa,

jika malam tiba, cukup suguhi keduanya dengan kata-kata,

sampai mereka pergi, namun abadi dalam puisi.

"Kawan, di kampung kami kebenaran harganya seribu lima ratus perak. Warnanya hitam, tergenang di dalam gelas saban pagi."

- Obrolan siang yang random, di sebuah kedai kopi bersama Cicik Andis/Andrea Hirata

"Kawan, di kampung kami kebenaran harganya seribu lima ratus perak. Warnanya hitam, tergenang di dalam gelas saban pagi."

- Obrolan siang yang random, di sebuah kedai kopi bersama Cicik Andis/Andrea Hirata

Sebuah Nukilan di Awal September

Tak ada lagi puisi di awal bulan ini
sebab, kata-kata telah pergi pada pagi buta tadi
langkahnya tak berbunyi, namun meninggalkan bekas di hati
barangkali, kata-kata sedang lupa diri, bahwa di hati, selalu ada yang tidak berubah sebelum semuanya pergi.

September telah dimulai
tapi, kata-kata telah abai,
bahwa bibirnya adalah sepenggal puisi yang belum selesai
serupa aku; menitipkan sepi pada cinta yang belum usai.

inikali, September begitu kejam
aku berdiri di sebalik punggung malam
sambil menerka-nerka; adakah yang lebih kelam selain masasilam
ternyata, luka ini belum meredam, meski berkali-kali telah dipendam.

September, biarlah menjadi hitungan masa
sedang aku, hanyalah perindu yang tak kenal lelah juga binasa
sebab, telah kutempatkan luka pada ceruk semesta
di sana hanya ada tulus doa, tiada bulir airmata.

Kepada Septemberku, kelak kau akan mengerti, bahwa kehilangan adalah sesuatu yang tak bisa dibagi, meski perpisahan terasa seperti kematian berkali-kali.

Belitung, 1 September 2014 / 00:00
September, bulan ketika airmata jatuh pada sebuah luka

Aku hanya bisa menutup mulut, sedang hatiku ribut. Ah…rindu, terkadang datang seperti maut.
Malam semakin pekat, tanpa hangat, tanpa siasat. Hanya ada hitam, serupa warna masa depan yang tak mampu kulihat.