Rindu Tak Terkata

Kekasih,

rindu itu; tiada pernah menyamar sebagai salam dari kejauhan.

Rindu itu; tiada pernah menjelma belati yang kerap menusuk dada kiri bertubi-tubi.

Rindu itu; tiada pernah menggenang basah di sudut mata kita.

Dan barangkali, rindu itu; adalah lukisan doa jumpa yang akan diaminkan oleh semesta.

- Jakarta, 22 Juli 2014 / 20:40

Aku, yang sedang terkepung oleh barisan rindu

Entah sudah berapa lama aku bercumbu dengan waktu untuk sebuah kata; di sini, aku selalu setia menanti kepulanganmu.
Tak usah kaucari-cari puisiku, asal kautahu, puisiku selalu ada pada lembar-lembar kenangan aku dan dirimu.
Sebulir tangis rindu telah membasah di sudut mata, tetesnya terhuyung ragu; hendak diam atau memilih jatuh ke tanah.
Malam ini, aku mendengarkanmu membaca puisi, suaramu sedikit parau, serupa aku yang ingin merebut hatimu, namun tak pernah terjangkau.
Serupa dua jemari kelingking bocah yang saling bertautan, kita saling memaafkan, lalu melanjutkan cinta kita yang tiada pernah terselesaikan.
Penyair gila itu, sedang berkoar-koar di persimpangan jalan, ini kali tentang kesunyian yang tak mampu lagi ia redam.
Listening to Lebaran Sebentar Lagi by Gigi

Diminta menuliskan opini ttg para seleb yang mudik. at Tabloid Cek & Ricek – Preview it on Path.

Orang yang meninggalkan sholat dan sholawat, niscaya hidupnya akan selalu dekat dengan syahwat dan maksiat.
Ustadz Bachtiar Nasir
Kepada hujan, biarkan rindu ini basah kuyup menantikan pertemuan, biarkan aku menggigil kesakitan. Sebab, hanya ini yang mampu kulakukan.
(via satukatasaturasa)

Mari kesini, berteduh dulu.

(via ekaputerii)

Bolehkah? Aku tak ingin kausediakan beberapa kudapan, atau secangkir kopi, aku hanya ingin berteduh dari gigilnya rindu ini.

Terimakasih atas tawaran berteduhnya, lain waktu pasti saya akan singgah ke tempatmu, sekadar menikmati kudapan khas kotamu.

Salam.