Jangan pernah lelah untuk bermimpi, sebab Tuhan selalu memeluk mimpi kita.

~ Andrea Hirata

Satu Nazar Harus Ditunaikan

Telah kusandarakan rindu ini pada barisan sunyi
menunggu denting-denting hening jatuh membelah, serupa tetes embun yang tabah
pada jemariku yang gemetar, larik-larik puisi telah menjelma nazar yang harus ditunaikan.

Sebelum kita saling melepaskan, detak nadiku ingin menuliskan satu puisi di jantungmu yang gigil
: bahwa cinta, kerap membuat kita tak punya cukup mata untuk melihat duka yang ada.

Sepang, 21 September 2014

Adalah kita; sepasang isyarat yang tak saling mengikat
meski segala puisi yang aku punya, telah rebah pada doa-doa paling tabah
: Aku mencintaimu, namun cintamu bukan aku.

Seketika aku terkungkung rindu, dan hanya ada dirimu di situ.
Dalam diam yang paling sempurna, ada yang memutar ulang kembali masasilamnya, seakan segalanya sedekat hela napas, padahal cintanya telah empas.
Dalam diamku; ada suara memekik, menggema, menggaung jauh menuju dirimu yang entah.
Rindu; serupa jarum jam yang berdetak detik demi detik, hingga menjelma dengung paling pekak di sudut dada.
Dengan keremangan senja, telah kutadah getah-getah rindu di antara kita. at Rumah puisi andrea hirata – View on Path.

Dengan keremangan senja, telah kutadah getah-getah rindu di antara kita. at Rumah puisi andrea hirata – View on Path.

"Kepada Senja"

Kepada Senja nun jauh di sana,
Masih ingatkah kau, ketika langit mengemasi petang yang merona jingga, kukecup kerinduanmu sepenuh mesra. Kau pun berkata, “ada yang berdebar pada jantungku yang dingin.”

Sore itu, sudut-sudut jalan menuliskan kenangannya sendiri; desir angin membawa kita pada tajamnya belati rindu. Setelah perpisahan, entah sudut hati kita yang manalagi akan terhunjam. Katamu, “aku tak ingin usia kita habis dalam kerinduan.”

Kita terus berdekapan, hingga menembus malam yang kian kelam, hingga bulan dan gemintang tiada saling berkata-kata. Lalu, kau ucapkan kata perpisahan itu, hatiku gulana, serupa nakhoda yang tak pandai membaca peta.

Pada pelukan terakhir kita, aku hanya mampu berkata, “jangan biarkan dekapan ini basah oleh airmata kita, biarlah segala yang akan tiba, kita catat pada kebaikan doa. Percayalah, Semesta takkan pernah abai pada masa, sebab kerinduan kita; adalah kebahagiaan tanpa kata-kata.”

Pada akhirnya, kita saling memahami, bahwa perpisahan hanya mengekalkan hari-hari kita, yang mungkin takkan lagi ada.

Kepada Senja nun jauh di sana, semoga kau tak pernah lupa akan kisah kita.

"Kepada Senja"

Kepada Senja nun jauh di sana,

Masih ingatkah kau, ketika langit mengemasi petang yang merona jingga, kukecup kerinduanmu sepenuh mesra. Kau pun berkata, “ada yang berdebar pada jantungku yang dingin.”

Sore itu, sudut-sudut jalan menuliskan kenangannya sendiri; desir angin membawa kita pada tajamnya belati rindu. Setelah perpisahan, entah sudut hati kita yang manalagi akan terhunjam. Katamu, “aku tak ingin usia kita habis dalam kerinduan.”

Kita terus berdekapan, hingga menembus malam yang kian kelam, hingga bulan dan gemintang tiada saling berkata-kata. Lalu, kau ucapkan kata perpisahan itu, hatiku gulana, serupa nakhoda yang tak pandai membaca peta.

Pada pelukan terakhir kita, aku hanya mampu berkata, “jangan biarkan dekapan ini basah oleh airmata kita, biarlah segala yang akan tiba, kita catat pada kebaikan doa. Percayalah, Semesta takkan pernah abai pada masa, sebab kerinduan kita; adalah kebahagiaan tanpa kata-kata.”

Pada akhirnya, kita saling memahami, bahwa perpisahan hanya mengekalkan hari-hari kita, yang mungkin takkan lagi ada.

Kepada Senja nun jauh di sana, semoga kau tak pernah lupa akan kisah kita.

anitapsdp:

Ternyata dua puluh dua tahun sudah aku di dunia. Dengan sisa luka yang masih basah, kata-Nya aku semakin dewasa. Tuhan telah menuliskan cerita dalam sebuah nada. Kunyanyikan doa-doa sebagai perayaan bertambah angka di usia.
Demi setiap lilin yang menyala, biarkan aku menangis bahagia atas karunia-Nya yang tak terhingga. Untuk mimpi-mimpi yang jadi nyata, untuk mereka yang selalu ada, yang menerima tanpa cela. Juga hadiah lainnya yang tak terkira.
Di usia baru, cerita sudah menunggu. Dengan sebuah buku bersampul biru akan kutuliskan tentang waktu yang terus memburu, tentang rindu yang mengeja namamu, tentang masa lalu yang pilu, tentang nama yang kutunggu, tentang segala hal apapun itu.
Dua puluh dua tahun, Terima kasih Tuhan untuk setiap sentuhan dan belas kasih-Mu yang tak berkesudahan.
-19 September 2014


Selamat ulang tahun anitapsdp teruslah bermimpi, sebab Tuhan selalu memeluk mimpimu hingga menjadikannya kenyataan.

anitapsdp:

Ternyata dua puluh dua tahun sudah aku di dunia. Dengan sisa luka yang masih basah, kata-Nya aku semakin dewasa. Tuhan telah menuliskan cerita dalam sebuah nada. Kunyanyikan doa-doa sebagai perayaan bertambah angka di usia.

Demi setiap lilin yang menyala, biarkan aku menangis bahagia atas karunia-Nya yang tak terhingga. Untuk mimpi-mimpi yang jadi nyata, untuk mereka yang selalu ada, yang menerima tanpa cela. Juga hadiah lainnya yang tak terkira.

Di usia baru, cerita sudah menunggu. Dengan sebuah buku bersampul biru akan kutuliskan tentang waktu yang terus memburu, tentang rindu yang mengeja namamu, tentang masa lalu yang pilu, tentang nama yang kutunggu, tentang segala hal apapun itu.

Dua puluh dua tahun, Terima kasih Tuhan untuk setiap sentuhan dan belas kasih-Mu yang tak berkesudahan.

-19 September 2014

Selamat ulang tahun anitapsdp teruslah bermimpi, sebab Tuhan selalu memeluk mimpimu hingga menjadikannya kenyataan.

Diamlah di sana;
Berpura-pura seolah semesta tak pernah tahu bahwa kita (masih) merasakan hal yang sama, dan dengan debar yang nyata.

(via r-e-t-o-r-i-k-a-g-i-t-a)

nyeesss…  :’(