Barangkali, beberapa orang pernah berada di titik pasrah dengan keadaan, karena sibuk dengan isi kepala sendiri, merusak suasana sendiri, bahkan menyalahkan diri sendiri, hingga pada akhirnya dibenarkan sendiri. Setelahnya, berdamai dengan diri sendiri.
— Kamu pernah?

…dan kupeluk dirimu, dalam angin yang berembus dari utara
namun rindu, tak pernah merasa cukup
Mendekatlah, biar kubisikkan satu kejadian yang paling rahasia;
bahwa buah manis dari berani menunggu
adalah hal-hal yang menakjubkan dalam perjalanan menggapainya
tentang bagaimana memeluk jarak sendiri, misalnya
Karena, semakin banyak penantian
semakin tidak tergenggam
kecuali dengan pertemuan
__________
Serang, 3 Agustus 2021
Sebab hidup, lebih membutuhkan kebahagiaan daripada penantian
Mari kita kemas segala tentang cemas
hingga terhenti pada satu titik batas
lalu lipat dalam doa
semoga menjadi tanda;
bahwa kau dan aku bukan lagi kita
Cinta yang pernah hadir bersama kelebat waktu
luruh dalam ikrar yang abai
terkulai ditikam pilu yang badai
Semoga ada yang hilang dari detik-detik waktu;
adalah namamu
__________
Jakarta, 31 Juli 2021
tak pernah ada yang salah, hanya terlalu banyak air mata yang tumpah
Aku pernah bertahan pada luka sambil membawa duka demi duka pada altar dada melecuti hari demi hari hingga berlebam duka
Hingga senja menggiring cahaya ke dalam pelukan malam saatnya tembang kenangan disenandungi denting sunyi sebab kesepian dan air mata; adalah takdir yang tak terpahami
__________
Batam, 23 Juli 2021
Tulisan pendek ini ditulis oleh saya bersama Giring Ganesha dan diakhiri dengan sebait lagu “Biarlah ~ NidjI”
“Cinta bisa membawa kita ke langit ke tujuh, dan cinta juga bisa menjatuhkan kita hingga ke titik nadir ~ Giring Ganesha”
Telah kukirim sebaris kata untukmu melalui rekah mawar, meski jemariku luka tertusuk durinya
Biarkan rindu bersimbah
biarkan sunyi meruah
hingga tinggal namamu yang mendetakkan jantungku
Jadi, biarkan sebaris kata untukmu menjelma menjadi doa, riyawat dan sejarah yang tiada tertampung oleh Semesta
: — Rindu Kamu
Seseorang yang masih melekat pada ingatanmu, kini telah bahagia
sedang dirimu, masih didekap dingin dan terbasuh sunyi
Penantian dan harapanmu masih terlihat jelas pada beranda langit Tuhan
dan dijatuhkannya sebagai hujan yang meneteskan duka demi duka
membuat kau batal menghapus satu nama yang telah membuatmu terluka
Berbahagialah, apa guna menyerapahi nasib
biarkan saja kenangan berdiam pada ingatan
sampai kesedihan benar-benar lupa
bahwa kau pernah merasakan kehilangan
_____________
Surabaya, 13 Juni 2021
Kehilangan, selalu menemukan jalan Tuhan
Oktober 2011, Ketika saya mulai menggunakan tumblr, saya tahu suatu saat saya akan menyudahi aktivitas saya di tumblr. Saya mengerti dan percaya, bahwa apa yang datang, suatu hari akan pergi. Bahkan hidup yang kita kenakan saat ini tetap saja pada akhirnya harus berhenti, dan saya menyadari bahwa dunia tidak lagi berputar untuk cerita kita, yang kita punya hanya tinggal cerita masa lalu yang penuh kenangan dan mengenang apa yang harus kita kenang dan memaafkan semua yang mungkin berakhir kurang baik untuk kita.
Kurang lebih, sudah sebulan ini saya sudah tidak intens lagi dalam menulis di medium tumblr dan instagram, dikarenakan kesibukan saya di tempat kerja yang baru, juga satu hal yang kadang membuat saya merasa putus asa, yaitu adanya penyempitan pembuluh darah di batang saraf yang mengharuskan saya untuk lebih banyak beristirahat. Tapi, rasa rindu akan kreativitas dalam menulis kerap merasuk dalam kesunyian hati, di mana sayap kata-kata selalu mengepak dan bertebaran yang ingin dituliskan sebagai bagian dari kerativitas kehidupan.
TIdak terasa, hampir sepuluh tahun saya berada di medium tumblr, begitu banyak hal-hal yang saya dapati, juga pengalaman-pengalaman yang tidak pernah saya alami di dunia nyata.
Berat rasanya mengungkapkan semua ini, bahwa saya hendak undur diri barang sejenak dari medium tumblr sampai dengan batas waktu yang tidak bisa saya tentukan. Dan saya tidak akan mematikan akun tumblr saya (deactivated account), agar sesekali saya bisa membaca tulisan dari teman-teman di tumblr.
Karena bagi saya, tumblr adalah tempat berlindung untuk setiap hati, dan wadah untuk menyerukan segala nada kehidupan.
Sekali lagi, terima kasih atas segala apresiasi akun tumblr saya, dan izinkan saya untuk memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan kekeliruan yang saya perbuat.
Semoga kita dipertemukan kembali dalam tetesan yang tiada henti dari Rahmat-Nya.
Salam.
— Jakarta, 25 Mei 2021 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional
Beginilah waktu memahat hidup
menulis nasib di mana saja
tak perlu darah untuk menjadi luka
dadaku sesak, seperti dihunjam sajak
tiada banyak pilihan
ketika cinta dan kematian
telah menjelma sepasang lengan
sebentar lagi, Semesta mengambil hidup yang sedang kukenakan
rawat kanak-kanak puisi kita, kelak mereka akan menanyakan;
di mana ayahnya disemayamkan
— Jakarta, 23 Mei 2021 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional
Aku mencintaimu tanpa syarat apa pun
bahkan aku akan melindungimu dari segala bahaya
termasuk aku yang kau anggap bahaya untukmu
aku akan menghindar agar kau tak merasakan bahaya
Sibuklah dengan keburukan kita untuk menjadi lebih baik, karena hanya kita yang menguasai diri kita sendiri.
Dan jangan habiskan energi kita untuk keburukan orang lain. Sebab, kemampuan kita untuk orang lain, hanya sebatas mengingatkan keburukan orang lain.
Jika terus menunggu hingga di penghujung waktu
entah harus berapa lembar almanak lagi yang lepas
hingga koyak oleh penantianmu
Entah harus kujawab bagaimana
jika denyut jantung ini bertanya
tentang rindu yang merajam dalam
sedang dirimu tergantung gelombang;
muncul tenggelam
Kapan kau kembali?
Aku menggigil dalam sunyi
Aku tak dapat lagi berkaca pada binar senja
sebab di sini, cinta telah terluka
Sementara di sudut ingatan yang bernama kenangan
aku tak dapat lagi memahami
tentang sepi yang kian berdenyut nyeri
~ Kepadamu; ajarkan aku cara merelakan, serupa embun meninggalkan dedaunan