Ini malam, adalah malam ketika aku harus melawan kenyataan
deras hujan seakan memberi tanda
bahwa segala kemungkinan tidak harus ditakutkan
seperti kenangan yang kerap menyandera ingatan
Katamu;
“kau tak perlu menjadi penyair untuk memahami cinta,
jadilah apa adanya dirimu dengan segala setia”
Katamu;
“Setiap hari kita selalu jatuh cinta,
tanpa merasa takut saling kehilangan”
Tapi kini, semuanya telah menjelma sembilu
mengiris-iris pedih ingatan
Tanpamu, aku hanya terdiam pada cangkang waktu
masih menengadah untuk sebuah harapan
sesekali, memaki dan menyerapahi takdir
Dan malam ini, aku masih menantimu
sambil merayakan segenap pedih yang kurasa
barangkali kau kembali, meski sekadar memberi luka
:Ikhlas aku terima
Sambil mencumbu rindu dan mencecah gigil Perlahan, kusebut namamu dalam doa
Sebab, kau serupa angin sejuk, yang tak mampu kupeluk
Adalah aku; peziarah sunyi yang tiada henti menabur bunga di atas makam rindu
Namun, yang kudapati hanyalah kenangan,
Serupa derit langkahmu yang bersisian di sampingku, dan tatkala kumenoleh, kau tiada
Aku melihat sepasang mata malaikat yang sendu, seakan ikut merasakan ketabahan yang sedang berdenyut di nadiku, seraya berkata:
“Pada akhirnya, cinta akan menemukan sendiri takdirnya.”
Maka, biarlah perjalanan ini membesarkan kesunyiannya sendiri
sampai waktu tak mampu lagi menjangkau detak nadi
Bahkan sampai hari ini,
masih terlalu banyak sobekan-sobekan takdir yang belum aku mengerti
termasuk merindukanmu yang tak pernah mati, meski telah kutebas berkali-kali
“
Ada yang menyusup diam-diam, lalu meresap sebagai kenangan;
Ternyata, aku masih merindukanmu.
Sebab aku, adalah luka di telapak tanganmu, yang kau tadah sendiri darahmu, agar tiada orang tahu, bahwa ada duka di situ
Dan air mata; adalah sebaik-baik tempat untuk menyembunyikan luka
Mendekapmu, adalah caraku menuliskan sajak di tubuhmu, sajak yang tak mampu dibaca oleh siapa pun, kecuali oleh debar jantungmu.
Watch “PUISI SATU KATA SATU RASA - CINTA TAK PERNAH BISA MEMILIKI RASA YANG SAMA” on YouTube
Ditulis oleh: Satu Kata Satu Rasa
Dinarasikan oleh: Deasty A. Fasa @deaafasa
Potongan klip video dan drum cover oleh: Vitha Vee @vee.drumz
Link drum cover Vitha Vee: “Semua Tak Sama” ~ Padi:
Ini kali, hujan serupa tangga yang kau jejaki setiap hari, sedang ketabahan; hanyalah kayu rapuh yang menopangnya
Tiada lagi kudengar rintik bahagia dari derai hujan di akhir Desember, yang mengingatkanku untuk tidak telat makan dan tidak tidur terlalu larut malam
Di luar, hujan belum juga mereda, rinainya jatuh perlahan demi perlahan, seakan ingin membisikkan permohonan
Memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah ada. Namun, langit tetaplah abu-abu, di antara batas gelap dan terang, sinarnya selalu menggenang dalam kenang
Pada hujan di akhir Desember, jika boleh aku memohon, barang sejenak aku ingin melupakan segala muara kesedihan dan penyesalan, tapi tidak dengan melupakanmu
Pada hujan di akhir Desember, untukmu; maafkan aku