Biarkan mereka menganggap kita hina, tebuang, dan hidup sebagai budak cinta.
Tapi jangan pernah sekali-kali kita mendustai kata hati.
Sebab kata hati adalah alat paling ampuh
untuk menghadapi keadaan masa lalu, kini, bahkan masa depan.
Puisi “Dan Beginilah Aku Mencintaimu” telah tayang di Youtube
Silakan klik tautan berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=E43mdGit8CU
Puisi oleh: Satu Kata Satu Rasa
Disuarakan oleh: Deasty A. Fasa
_____________________________________
DAN BEGINILAH AKU MENCINTAIMU
Dan beginilah aku mencintaimu
dengan saling menatap mata
tanpa kata juga suara
Dan beginilah aku mencintaimu
dengan meredam sunyi yang dingin
juga mendendam segala yang kuingin
Dan beginilah aku mencintaimu
melihat pundakmu menjauh pergi
tanpa bertanya ke mana
Dan beginilah aku mencintaimu
rela terluka sekadar melihatmu bahagia
Sebab waktu serupa nasib
tidak pernah punya hitungan pasti
Keduanya hanya mampu melupakan
atau menyembuhkan luka cinta dalam diam
Silakan klik tautan di bawah ini:
___________
KECUALI LUKA
Kanak-kanak rindu yang tumbuh kian besar
menggenggam kecemasan di tangannya
dan menuliskan riwayat kesunyiannya ke dalam sajakku
Di tempat yang jauh darimu
lihatlah, aku semakin lihai
memeluk kesepian yang tak pernah usai
Kota yang dulu kerap kita lewati
kini sudah hilang terbakar
tapi tidak dengan kenangannnya
Selepas hujan tadi
aku melihat senja hamil
dengan benih kenangan yang kian menua
Aku telah sampai pada tepi di beranda rumah
masih tergantung tanda kabung
ternyata, kita tidak pernah memiliki apa-apa; kecuali luka
Puisi oleh: satu kata satu rasa
Disuarakan oleh: Deasty A. Fasa
Maka, biarlah kesendirian ini membesarkan kesunyian dalam denyut nadiku. Sebab di hatiku, kau telah kumakamkan.
__________
—Dan tulisan ini terbuat dari duka yang telah lewat

TERBIASA BERSAMAMU
Setiap pagi, kau selalu membangunkanku dengan mimpi yang sama
Tentang hujan yang kau basahi dengan kecupan
Setelahnya, aku selalu berandai-andai, jika saja waktu bisa berhenti dan mampu menyelamatkan kita dari kerinduan
barangkali, tiada lagi kecemasan yang harus dirisaukan
Saat kau tiada. Ternyata, kesedihan tak sederhana yang pernah kita bayangkan
Sebab aku, telah terbiasa bersamamu, sebagaimana aku membiasakan diri untuk merawat denyut nadiku
Dan sementara, untuk hal-hal yang belum sempat kita sepakati, biarlah aku menyebutnya sebagai sepi





