Kamu masih ingat dengan potret di atas itu? Ya, itu potret yang pernah kau kirimkan kepadaku beberapa waktu lalu, hari di mana aplikasi sosial mediaku dipenuhi pesan darimu.
Tapi kini, hari-hari menjelma kejanjilan-keganjilan yang taklid pada kesepian, hanya ada aku, hujan dan malam yang kian kelam. Selebihnya, hanya kenangan yang terselip di sebalik ingatan. Dan demi bisa meninabobokan kerisauan, biarlah aku belajar kepada sebongkah batu yang selalu teguh tiada mengadu, setiap dihempas badai rindu.
Seharusnya, saat ini aku tidak perlu memperjuangkan kesunyian, jika saja Kita masih berjalan bersisian, dan seharusnya, aku tak perlu mencecap pahit rindu, jika saja kita masih satu.
Demi lengkung langit tempat Semesta mengerlipkan gemintang, biarlah aku tetap mencintaimu meski hanya dalam kenang, sebab aku yakin, bahwa seluruh air mata akan kembali kepada cinta, setelah mengembara dari fana ke baka.
Percayalah, waktu tidak pernah berdetik sia-sia, walau harus kuartikan dirimu dengan debar cinta yang masih tersisa.
Senja perlahan menghilang dilekang malam, selain puisi, adakah jalan untuk menujumu, Chloe?
oversteen liked this azrinamachmudin liked this
aisyahaz liked this inkofjon liked this
croisantvanila liked this
sri-irawati-26 reblogged this from satukatasaturasa titarostikadewi15 liked this
adenaniyul liked this
bukupena liked this satu-rindu liked this
gradistie liked this
penikmatkamuuu liked this
kopikeju liked this
goldenbird20 liked this deaafasa liked this
ramadhaniannisa30 liked this
ourgrey reblogged this from satukatasaturasa
ourgrey liked this
hujanrinduu liked this
es-kacang-merah liked this
rizkinahayati22 liked this dyourayoga liked this
sporadicpeanutoperaapricot liked this
pitamerah liked this
ainayyasyirahasnaado liked this satukatasaturasa posted this
Kamu masih ingat dengan potret di atas itu? Ya, itu potret yang pernah kau kirimkan kepadaku beberapa waktu lalu, hari...


